Kategori
Article

Saatnya Tionghoa-Indonesia Bersuara

Kolom oleh Kevin Ng

Di dunia ini semua manusia mengalami penderitaan. Ada yang dibantai. Ada yang dirampas haknya. Ada yang diperkosa. Ada yang dibungkam. Warga Tionghoa-Indonesia mengalami itu semua. Dan sekarang kita takut untuk membicarakannya.

Aku melihat keadaan ini begitu memprihatinkan. Rasa perih itu telah lama bersemayam, sejak seorang Tionghoa terlahir di Indonesia. Pembantaian demi pembantaian dihadapi warga Tionghoa, dari Geger Pecinan hingga Genosida 65-66 yang ikut merenggut nyawa manusia-manusia malang. Kebencian terhadap Tionghoa juga membuah menjadi amuk massa, seperti yang terjadi pada tahun 1998. Kita yang masih bernapas hingga saat ini melihat rangkaian tragedi ini dalam lembar sejarah bangsa.

Ada satu saat ketika aku merasakan, apakah ini salahnya menjadi seorang Tionghoa? Kenapa kita sudah dianggap berbeda sejak dilahirkan? Apa karena mata kita lebih kecil? Apa karena warna kulit kita dianggap “putih”? Krisis identitas ini yang dialami oleh banyak sekali warga Tionghoa-Indonesia. Pada akhirnya ada yang menerima bahwa sejak bayi Tionghoa dilahirkan, maka ia akan mengalami ujian yang berat.

Kata-kata seperti “Cina,” “Sipit,” dan “Babi” sudah menjadi bulan-bulanan. Banyak orang Tionghoa membalasnya dengan: “Tidak masalah. Memang aku cina, sipit, dan (kebanyakan) suka makan babi.” Aku jarang sekali melihat ada yang melawan–perlawanan dalam bentuk sebuah pemikiran yang akan membantai habis sebutan-sebutan rasis itu!

Pada seorang Gie aku berkaca. Dia mungkin seorang Tionghoa, tapi dia juga seorang Indonesia. Sebagai mahasiswa, dia sangat aktif dalam mengorganisir massa serta menulis. Tulisan-tulisannya tajam. Bahkan Gie tak segan-segan untuk menyebut nama-nama pejabat besar pada masa itu yang dikiranya korup dan tak etis. Sikapnya ini membuat banyak orang gerah, termasuk rekan-rekan seperjuangannya yang kesal karena dikritik. Akibatnya dia sering mendapatkan sebutan rasis, dan diasingkan. Tapi dia tetap bertahan dalam idealismenya.

Ada pula Yap Thiam Hien, seorang advokat yang membela kaum miskin perkotaan dan masyarakat rentan. Dia tidak pernah melihat latar belakang orang yang ia bela, bahkan seorang anti-cina sekalipun. Hal ini diyakininya sebagai marwah penegak keadilan, bahwa setiap orang berhak mendapatkan proses peradilan yang adil dan jelas. Identitasnya sebagai Tionghoa-Indonesia tidak membuatnya gentar. Baginya ia adalah Tionghoa, dan tidak ada yang bisa membuatnya berhenti untuk berjuang untuk keadilan dan kebenaran karena etnisitasnya.

Dan ada Ita Martadinata, perempuan Tionghoa yang dibunuh dan diperkosa sebelum kesaksiannya di PBB atas pemerkosaan massal yang terjadi pada tahun 1998. Dia ditemukan tidak bernyawa di sebuah kamar. Sungguh menyedihkan. Aku tak habis pikir ada makhluk biadab macam apa yang memperlakukannya macam itu. Apa salahnya? Apa salahnya mewartakan kebenaran?

Semua orang Tionghoa-Indonesia yang berani untuk memperjuangkan keadilan sosial antara berakhir pada jeruji besi, dibungkam, atau tewas. Lantas apakah orang Tionghoa dipaksa untuk menjadi makhluk-makhluk yang disebut “taipan” itu? Kita secara tidak langsung dipaksa untuk memainkan peran sebagai orang-orang “cina yang kaya dan tak tahu diri.” Dan gambaran itu yang melekat pada setiap orang yang melihat seorang Tionghoa.

Ketika disebutkan kata “cina”, gambaran paling mendasar adalah “orang tajir”. Tidak ada yang mengingat bahwa warga Tionghoa  telah ditindas sejak lama. Dalam buku teks sejarah sekolah, apakah ada tentang Geger Pecinan? Tidak ada! Tidak ada disebutkan sekitar 10.000 orang Tionghoa dibantai dan dibakar hidup-hidup. Tentang 1998 saja hanya selintas lalu. Tidak ada yang menjelaskan secara terperinci Ita Martadinata dan ratusan perempuan Tionghoa lainnya diperkosa! Sungguh munafik apabila kita mengatakan bahwa Tionghoa-Indonesia itu selalu sejahtera.

Banyak Tionghoa-Indonesia yang sampai sekarang masih kesulitan menjalani kehidupannya. Untuk memperlancarnya, maka mereka diperas dengan anggapan bahwa semua Tionghoa itu kaya. Hal ini mengesampingkan sebuah fakta bahwa banyak sekali Tionghoa yang miskin di seluruh penjuru Indonesia.

Para “Cina yang sudah pasti kaya” turut menindas warga Tionghoa yang miskin dan rentan. Mereka hidup enak, mewah, dan berpesta selagi Tionghoa yang miskin menderita kelaparan. Maka dalam perlawanan Tionghoa-Indonesia untuk merebut kembali identitasnya, mereka harus berpihak pada yang lemah dan membutuhkan pertolongan. Sejatinya identitas orang Tionghoa itu bukan menjadi borjuis cuek yang juga menindas banyak orang. Mereka adalah pengkhianat bagi perjuangan Tionghoa-Indonesia sepanjang abad!

Membangun Solidaritas

Kita dibuat lupa tentang bagaimana Tionghoa memperjuangkan hak dan martabatnya dengan darah. Sangat berdarah. Di dalam tubuhku mengalir darah ribuan orang Tionghoa yang telah tewas. Mereka telah berjuang dengan sebaik-baiknya. Maka tidak ada yang boleh memaksa aku untuk diam, untuk membuat semua orang Tionghoa berdiam diri.

Di dalam diri kita semua, para Tionghoa-Indonesia, ada api yang masih menyala. Sekarang ia sengaja dibuat redup agar kita tidak dapat melakukan perlawanan. Api itu menjadi sangat kecil. Tapi aku percaya setiap orang Tionghoa di Indonesia memiliki cita-cita agar terjadi satu perlawanan besar terhadap rasisme, diskriminasi, dan jenis-jenis penindasan lainnya yang menghilangkan martabat manusia.

Ada pula waktu bagi kita untuk bersuara, mengatakan tidak pada setiap ketidakadilan yang telah kita telan pahit-pahit. Masa itu adalah sekarang. 

Sudah saatnya kita menyuarakan nyanyian perjuangan dan bergelora, berteriak: “Musnahlah kalian semua makhluk rasis!” Jadikanlah ini fase di mana Tionghoa-Indonesia melawan dan mengambil kembali apa yang telah dirampas, entah itu identitas, budaya, dan segala hal yang kita miliki sejak lahir.

Kita perlu melihat kembali apa yang sudah negara berikan pada kita, bukan sebaliknya. Untuk saat ini, nihil! Semua kebohongan dan formalitas taik kucing yang hanya membuat Tionghoa bagaikan ornamen di kala libur Imlek telah tiba. Permainan barongsai hanya dijadikan sebagai pertunjukkan mencuci mata. Kenyataan pahit Tionghoa-Indonesia tidak pernah ditunjukkan.

Keadaan ini membuat kita harus berpikir kembali bagaimana caranya kita dapat memperjuangkan hak-hak yang kita miliki. Tionghoa-Indonesia yang telah menelan kepedihan mendalam harus bersatu. Tentu saja kita perlu bersatu dengan mereka yang lemah dan tidak berdaya, bukan dengan para sekumpulan Tionghoa yang fasis dan bigot. Mereka tidak akan pernah menjadi Tionghoa.

Perlawanan akan membuat perubahan. Saatnya organisir diri, satukan kekuatan, dan sebarkan suara kebenaran. Rangkul semua Tionghoa-Indonesia yang ingin melawan penindasan rasial secara struktural ini. Panggil mereka dan satukan suara dalam perjuangan kelas. Meleburlah dengan rekan-rekan yang turut berjuang untuk melawan penindasan, bukan hanya Tionghoa, tetapi semuanya!

Pada akhirnya Tionghoa-Indonesia akan menjadi salah satu bagian dalam sejarah yang turut andil dalam suluh api pergerakan keadilan sosial di negara ini. Perjuangan kita semua, baik Tionghoa maupun non-Tionghoa, akan menyatu. Dari sanalah kita akan memanggil orang-orang di sebelah kiri kita sebagai teman, terlepas dari latar belakangnya. Kita yang ditindas perlu melawan bersama-sama!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s